Wednesday, 27 April 2016

Lahan tanaman kelor harus cukup sinar matahari



Membudidayakan tanaman kelor sejatinya tidak terlampau sulit. Tanaman ini bisa tumbuh subur di hampir seluruh wilayah Indonesia, baik dataran rendah maupun dataran tinggi sampai ketinggian 1.000 mdpl.

Tanah sebagai lahan tanam tidak harus khusus, hanya saja jangan pada tanah yang lengket dan wilayah yang terendam air. Lahan tanam juga harus terbuka dan cukup menerima sinar matahari.

Pembudidayaan tanaman ini bisa dengan setek batang atau dengan biji. Benih harus berasal dari dari tanaman yang sehat dan berusia tua. Benih harus tidak keriput dan tidak cacat. 

Dudi Kusnadi, pembudidaya tanaman kelor dari Blora bilang, biji tanaman yang sudah diseleksi direndam semalaman sebelum ditanam. Setelah ditiriskan dari air rendaman, biji ditutup kain dalam wadah hingga muncul kecambah.

Setelah ekor kecambah muncul, kemudian benih langsung di tanam di lahan dengan jarak tanam 1 meter(m) x 1 m. Lubang harus memiliki kedalaman sekitar 30 cm sampai 50 cm dengan lebar 20 cm sampai 40 cm. Sebelumnya, tanah ada baiknya dicampur pupuk kandang atau kompos.

Setelah satu hingga dua minggu, daun kecil akan mulai bermunculan. Untuk mendapatkan panen pertama diperlukan waktu sekitar tiga bulan. Setelah itu, setiap bulan sekali kelor akan panen. Untuk satu pohon kelor bisa menghasilkan sekitar 0,5 kilogram (kg) daun. "Jika tanaman semakin tua, akan semakin banyak hasil daunnya," ungkapnya.

Dari lahan tanam seluas 1 hektare (ha), dalam sebulan, Dudi bisa mendapatkan panen daun kelor sebanyak 5 ton. Sementara FX Budianto, petani kelor asal Yogyakarta bilang, selain daun semua bagian tanaman kelor bisa dimanfaatkan seperti kulit kayu, bunga, biji, dan akar. untuk membuat obat herbal.

Saat musim hujan, Budianto bilang produksi panen secara jumlah memang lebih banyak daripada musim kemarau. Namun, risiko daun tidak kering dan berjamur juga tinggi. Kalau sudah begitu otomatis tidak laku.

Saat musim kemarau, tidak ada risiko jamur atau tidak kering, namun masalahnya daun banyak yang rontok. Sehingga rata-rata Budianto hanya bisa menjual sekitar 40 kg-80 kg daun kelor per bulan.

Budianto juga menjual biji kelor. Ia bilang harga biji kelor cukup mahal. Saat ini dia menjual biji kelor seharga Rp 50.000 per ons. Dari penjualan daun dan biji, Budianto bisa meraup omzet Rp 20 juta−Rp 25 juta per bulan. Daun kelor yang sudah dikeringkan paling banyak dicari saat ini. Saat proses pengeringan, daun dijemur maksimal selama sehari dan hari berikutnya diangin-anginkan saja. Setelah itu daun kelor kering sudah bisa dikemas dan dijual. 

Mengulur untung budidaya tanaman kelor (2)

  • Uploaded by: Unknown
  • Views:
  • Category:
  • Share

    0 comments:

    Post a Comment

    Zona Angkringan Cangkruk *Gresik Zonx* (Buat WadiaBala Cangkrux yang mo pesen pilem silahkan isi komen dan kami akan siapkan besok hari)

    Ambil Keputusan Taktis Dengan KOPI !

    Ambil Keputusan Taktis Dengan KOPI !

     

    Our Team Members

    Copyright © Komunitas WarKop : Zona Angkringan Cangkruk "Gresik Zonx" | Gresik ZONX Templateism.com | WadiaBala CoffeHolic